Purwokerto, Kota Mendoan yang Ramah dan Bikin Betah

1
97
Purwokerto Kota Ksatria
Purwokerto Kota Ksatria
Free Website Visitors
Free Twitter Followers

Apa yang terlintas saat menyebut Kota Purwokerto? Dalam benak kita akan terbesit sebuah kota yang tengah berkembang dengan apik, yang didukung oleh sektor pariwisata yang unggul. Maka tak heran, ibukota dari Kabupaten Banyumas Jawa Tengah ini menjadi salah satu titik poin para wisatawan untuk berwisata menikmati keindahan alam, kebudayaan, tradisi, hingga kuliner khas Purwokerto. Melakukan perjalanan ke Purwokerto menjadi pengalaman menarik dan tak terlupakan bagi saya, selain begitu banyak destinasi wisata yang bisa dikunjugi, penduduk setempat juga sangat ramah terhadap wisatawan. Rasanya, hari-hari terasa singkat selama berada di kota dengan julukan kota kripik ini, mungkin karena merasa nyaman dan bahagia, jadi terasa betah dan enggan untuk pulang.

Wisata Kekinian Purwokerto
Kawasan Wisata Alam Batur Raden

Secara geografis, Purwokerto terletak di selatan Gunung Selamet. Gunung ini masih berstatus sebagai gunung api aktif di Pulau Jawa. Dikarenakan letaknya yang dekat dengan gunung, suhu di Purwokerto sangat sejuk, bahkan di pagi hari udara akan terasa sangat dingin. Hal yang unik dari kota ini salah satunya adalah tidak adanya industri besar yang berkembang disana, padahal jika bicara soal potensi, kota ini tentu memiliki potensi alam yang jika digunakan sebagai bahan dasar industri menjadi sektor yang sangat menjanjikan. Itulah sebabnya, kota ini masih terus terasa asri dan memberikan kenyamanan bagi para wisatawan.

Selama berada di Purwokerto, saya tidak mau menghabiskan waktu hanya berada di penginapan. Namun, saya berkeliling kota dan menyambangi beberapa destinasi wisata yang cukup terkenal disini. Salah satunya adalah Kawasan Baturraden. Kawasan wisata ini berada di kaki Gunung Selamet, dari puncak Baturraden kita juga bisa melihat kawasan Pantai Cilacap dan Nusa Kembangan dari atas.

Seiring dengan perkembangan zaman, kawasan Baturraden terus diminati dan diramaikan oleh para pengunjung, baik domestik maupun mancanegara. Sehingga, pemerintah melalui Dinas Pariwisata Banyumas mengembangkan kawasan wisata Baturraden dengan menambah wisata buatan yang juga menarik untuk dicoba, seperti wahana bermain anak, kolam renang, sepeda air, hingga teater alam Baturraden. Bahkan, di tahun 2017 lalu, Kawasan Baturraden menjadi salah satu titik megaproyek wisata dengan anggaran bantuan pusat sebesar lebih kurang tiga ratus miliar rupiah. Jika Anda juga berniat untuk berwisata ke Baturraden, pastikan untuk membawa pakaian hangat seperti mantel atau jaket, sebab suhu udara di tempat ini terbilang cukup dingin karena berada dekat dengan gunung.

Wisata Alam Curug Ceheng
Wisata Alam Curug Ceheng

Selama berada di Purwokerto, bukan hanya wisata alam disini juga sedikitnya mendapatkan kesempatan untuk mempelajari bahasa lokal dan kebudayaan setempat. Bahasa daerah yang digunakan adalah Bahasa Jawa dengan dialek Banyumasan atau lebih dikenal dengan Bahasa Ngapak. Bahasa ini merupakan bahasa lokal warisan nenek moyang, selain itu Bahasa Ngapak juga menjadi bahasa kebanggan yang digunakan oleh masyarakat Purwokerto dan Banyumas sebagai bahasa sehari-hari di samping bahasa nasional, Bahasa Indonesia. Sudah tentu, bahasa dan budaya Purwokerto memberikan andil terhadap khazanah keragaman budaya nusantara. Di kota ini, terkenal juga alat musik dengan nama yang sangat unik yaitu Thek-thek. Thek-thek adalah seni musik yang dimainkan dengan alat musik yang terbuat dari bambu dan dimainkan oleh sekelompok orang yang berjumlah 20 hingga 40 orang. Mendengarkan musik ini, nuansa tradisional kedaerahan sangat kental. Rasanya semakin betah untuk berlama-lama berada di Purwokerto.

Sebagai wilayah yang berada di bawah kaki gunung slamet, wisata alam menjadi andalan kota mendoan ini, tidak lupa mengunjungi salah satu destinasi wisata yang tidak kalah populernya dengan Kawasan Baturraden, yakni Curug Ceheng. Jadi sedikitnya sudah semakin tergambar ya, mengapa Purwokerto menjadi daerah dengan suhu yang dingin, selain tidak ada industri berskala besar, Purwokerto juga banyak memiliki bukit-bukit, gunung, juga air terjun. Curug Ceheng terletak di Gandatapa, Kecamatan Sumbang. Curug ini biasanya dipadati pengunjung saat weekend dan hari-hari libur nasional. Mandi dengan air Curug Ceheng akan membuatmu merasa sangat segar dan kembali fresh. Rasa dingin yang melanda karena telalu lama berendam di curug, rasanya perut akan mudah lapar. Cacing di perut saya sudah mulai protes minta untuk diisi. Namun tak perlu khawatir, sebab di sekitar Curug Ceheng juga terdapat warung-warung kecil yang menyediakan makanan dan minuman yang mampu menghilangkan rasa lapar dan dahaga.


Wisata Kuliner Mendoan khas Banyumas
Wisata Kuliner Mendoan khas Banyumas

Wisata ke Purwokerto jangan lupa pula untuk mencicipi salah satu kuliner khas Purwokerto, yaitu Soto Sukaraja. Habis mandi seharian di Curug Ceheng memang paling pas memakan makanan yang berkuah hangat, ditambah nasi selera makan jadi naik seratus persen. Soto Sukaraja memiliki ciri khas kuah kaldu yang kental berwarna kemerahan. Rasanya sangat gurih dan sedap, kuah kaldu yang kental tersebutlah yang membedakan Soto Sukaraja dengan soto pada umumnya. Jika kamu bosan dengan nasi, soto ini juga sangat cocok disajikan dengan ketupat. Ada beberapa topping pilhan yang bisa kamu pilih, yakni daging ayam dan daging sapi. Tenang, soto ini tidak akan menguras kantong anda, sebab satu porsi Soto Sukaraja hanya dibandrol dengan harga dua puluh lima ribu rupiah saja.

Berjalan-jalan ke Purwokerto saya juga menyempatkan untuk membeli beberapa oleh-oleh khas kota ini. Saya membeli Jenang Jaket, makanan dengan nama lucu ini adalah kepanjangan dari Jenang asli ketan, karena saya dan keluarga di rumah menyukai ketan, maka saya membeli cukup banyak Jenang Jaket ini. Selain ketan, Jenang Jaket ini juga berbahan dasar gula merah dan santan kelapa. Jenang khas Purwokerto ini juga dikemas dengan sangat khas dan berbeda dengan jenang daerah lainnya, yaitu dibungkus di dalam plastik berbentuk persegi yang kemudian dimasukkan ke dalam kotak. Tampilannya sangat cantik dan rapi, jadi sangat cocok untuk dijadikan sebagai buah tangan.

Menambah isi keranjang oleh-oleh saya, saya juga membeli Nopia dan Mino. Jangan keliru diartikan sebagai nama orang ya, karena Nopia dan Mino merupakan makanan berbahan dasar gula jawa yang dibalut dengan tepung terigu dan dibentuk bulat menyerupai telur ayam. Saat memakan kue ini, kamu akan merasakan dua sensasi berbeda yakni keras di luar empuk di dalam. Nopia dan Mino memiliki tekstur yang keras di luar, akan tetapi tekstur di dalam kue ini sangat empuk atau keropos dan melting di mulut. Satu kali mencicipinya, saya langsung jatuh cinta. Tanpa berpikir panjang sayapun membungkus beberapa box kue ini untuk dibawa pulang. Saya pikir ibu dan ayah pasti menyukai kue ini, sebab keluarga saya kebanyakan memang menyukai kue-kue dengan rasa yang manis.

Wisata Kuliner Nopia banyumas
Wisata Kuliner Nopia banyumas

Tiga hari berlibur di Purwokerto rasanya memang kurang. Udaranya yang dingin membuat saya enggan kembali ke Ibukota Jakarta. Tetapi, apa daya, waktu memang harus memisahkan saya dengan kota yang ramah dan nyaman ini. Saya berharap masih ada kesempatan kedua, agar saya bisa mengunjungi destinasi wisata menarik lainnya yang dimiliki Purwokerto.

ThoriqAlfatah

ThoriqAlfatah

Hanya orang yang suka melangkahkan kaki setapak demi setapak, perlahan menapaki indonesia. Dalam perjalanan yang terkadang berbatu, terkadang mendaki dan terjal, menurun, tandus, penuh bunga.

Hubungi kami: [email protected]
ThoriqAlfatah

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here